Penjahit dan Warga Kota yang Berjuang

Posted on Updated on

100_2816

Semua orang yang pernah ke Yogya, pasti mengenal Tugu Yogyakarta. Namun tahukan kalian, ada hal menarik di salah satu bangunan di dekat monumen ini. Modiste Pini. Ah, mungkin kalian nggak tau… Baiklah, saya ceritakan saja.

Modiste (penjahit pakaian perempuan) ini terletak di timur Tugu, berdiri di ujung deretan pertokoan yang menempati bangunan hindis. Cantik! Dasar suka menikmati bangunan tua, sudah lama saya mengetahui keberadaan modiste ini. Lagipula dulu sering mampir di warung martabak londo yang terletak di seberang toko ini, jadi pasti terlihat mata tiap keluar parkiran. Selain bangunan, yang menarik mata pada toko ini adalah plang nama toko.

MODISTE PINI

MENERIMA SPESIAL PAKAIAN WANITA

Kebaya . Kain Wiru . Sarong . Rok Pesta

JL. JEND. SUDIRMAN NO. 2 YOGYAKARTA

Begitu tulisannya. Rangkaian huruf-huruf ini tak terlihat spesial. Lihatlah gambar empat wanita di sebelah tulisan. Dua paling kiri berpose dalam balutan busana kebaya lengkap dengan jarik (kain panjang), dua lainnya dalam gaun modern. Meski bukan cetakan foto, lukisan keempat wanita itu terlihat sangat cantik.

100_2849.
Relawan sedang membersihkan gambar yang rusak akibat dicorat-coret

Nah, beberapa pekan belakangan, Tante Pin, sang pemilik toko, merasa terganggu dengan banyaknya coretan ngasal (sering disebut vandalisme) di fasad bangunan tokonya. Keluhan ini lantas ditanggapi teman-teman dari komunitas Warga Berdaya. Mereka langsung mengadakan agenda Merti Kutha #2 (edisi #1 tahun 2012 lalu membersihkan sampah visual berupa iklan luar ruang) pada Kamis (15/05) tadi.

IMG-20140515-01125
Aksi ini dibantu oleh warga Yogya. Laki, perempuan, anak. Petugas yang mangkal di Pos Polisi di samping toko ini pun ikut serta!

Sejak siang mereka bekerja. Membersihkan poster yang ditempel seenaknya, menghilangkan tulisan vandal, dan seterusnya. Lapisan dinding dikerok, dicat ulang. Lima jam kemudian, bangunan ini tampak cantik kembali. Coba lihat perbedaannya. Gambar berikut milik Pakdjo.

pini_plang_original
Poster hitam menutup gambar keempat wanita berbusana cantik.
Perempuan berkebaya di kaca pintu. Cantik!
Perempuan berkebaya di kaca pintu. Cantik!

Aksi tak sekadar membersihkan agar terlihat bersih, cantik, estetis. Ada pesan yang ditinggalkan, seperti menjaga kelestarian bangunan pusaka (bangunan ini sudah terdaftar sebagai Bangunan Cagar Budaya, ini alasan mengapa di akhir aksi dipasang satu plakat bertuliskan “Bangunan Cagar Budaya bukan untuk corat-coret”). Gagasan ini juga coba mengomunikasikan tentang seni visual di ruang publik, agar masyarakat paham bahwa ada coretan yang bukan vandalisme.

Wah, bahasan berat. Saya sih tertarik pada sejarah modistenya. Semoga berkesempatan ngobrol dengan pemilik.

adriani zulivan

Tarian Tenun

Posted on

Sejak mengenal kata pusaka (heritage), saya menjadi peggemar berat kain nusantara. Sejak tiga tahun belakangan, saya selalu menyempatkan diri untuk mencari kain khas daerah yang saya kunjungi. Saya mulai mengoleksi kain. Ini mengalahkan hobi saya mengoleksi sepatušŸ™‚ Ini alasan mengapa saya membuat kategori khusus kain nusantara di sini.

2012-08-04 15.15.03

Meski hidup di tanah Jawa yang sangat mengagungkan batik, saya lebih tertarik pada tenun. Ada pengetahuan luar biasa pada proses menenun yang saya lihat. Tok tok tok, suara tumbukan kayu yang merangkai benang-benang. Saya begitu menikmati gerakan tangan dan kaki para penenun. Inilah tarian tenun, dimainkan dari hati atas keinginan besar melestarikan pusaka bangsa. Salah satu yang paling berharga adalah hasil karya di Puri Pemecutan, Denpasar, Bali ini. Dulunya, kain yang dibuat di sini diperuntukkan bagi kerabat kerajaan.

Cerita lanjut tentang tenun di Puri Pemecutan bisa dilihat di sini. Foto ini diikutkan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde 41: Wastra.

 

adriani zulivan

 

Kalap di Lantai

Posted on Updated on

100_1174

Mbah Google bilang: PGS Solo. Akhirnya hari ini berkesempatan mampir ke sana. Masuk dariĀ lobby Lantai 1 untuk mencari mukena, akhirnya ke sasaran utama di Lantai Dasar: Deretan toko kain! Saya awalnya nggak yakin bahwa lantai ini yang dimaksud Simbah Google, hanya tergerak saja meluncur turun ketika melihat tumpukan kain di lantai. Kain + di lantai = murah. Biasanya sih begitušŸ™‚

Benar saja, murah. Saya hanya membeli di toko yang pertama saya lihat, persis di ujung tangga. Kain dan motifnya bagus. Saya tentu saja mencari bahan santung. Nah, di sini saya jadi tahu bahwa ada dua jenis santung. Pertama santung yang diproduksi oleh Sritex. Bahannya tipis mudah sobek, gambarnyaĀ colorfull cenderung norak (meski saya juga suka), dengan blocking pewarnaan yang tidak rapi. Ituloh, seperti baju-baju tipis yang dijadikan daster, dress dll yang banyak dijual di Malioboro.

Yang kedua adalah santung keluaran satu pabrik lain yang saya lupa namanya. Seperti Sritex, pabrik ini juga terletak di Solo. Kainnya lebih tebal, meski tetap lembut dan adem. Yang paling saya suka, motifnya elegan (sehingga tidak terkesan norak) dan proses pewarnaannya rapi. Sayang, jumlah persediaan kain ini sangat sedikit. Saya hanya mendapat dua potong ukuran masing-masing sekitar 1 meter.

100_1171100_1168

“Jika datangĀ karungan, langsung diambil pedagang,” kata Mbak-mbakĀ penjaga toko. Pedagang ini maksudnya pedagang baju. Jadi, mereka borong kain untuk kemudian dijahit, lalu dijual ke butik-butik. Boleh juga idenya, ya!

kalap_original
Saya, ngejogrokšŸ™‚

Saya kalap. Tuh, sampai ngejogrok di lantai begitu. Senang belanja di sini, sampai saya bilang ke Ibu. “Kan dulu kalo kita ke Solo, Mama selalu cari kain di sana,” kata Ibu saya. Oalaa saya lupa kalau jaman SMA dulu sering ke sana. Ibu saya suka beli bahan sifon dan katun. BaiklahšŸ™‚

Akhirnya saya yakin, tempat ini yang dideteksi Simbah Google. Cek harga-harga kainnya di sini.

adriani zulivan

Jual Kain Kiloan Solo: Anggraini

Posted on Updated on

100_1171

Lokasi: Lantai Dasar Pusat Grosir Solo (PGS), Solo, Jawa Tengah.

Jenis: Segala macam kain.

Sistem jual: meteran atau kiloan

Harga per kg: Santung Rp 95.000. Katun polos Rp 90.000. Katun motif kotak-kotak Rp 105.000

Harga per meter: Santung Rp 18.000 – 22.000

100_1168

Mau tawar harga sebab ada kain yang cacat? “Ya namanya juga kiloan, pasti ada yang cacat. Kalau mau beli meteran saja, yang cacat bisa dibuang,” kata pemiliknya. Yang pasti, pelayanan memuaskan. Mbak penjaga tokonya akan mau bersusah-payah mengambilkan barang di bagian paling bawah, bantu mengukur kain, hingga ‘diskusi’ sebaiknya kain dengan motif dan kualitas bahan ini dijahit menjadi apašŸ™‚

adriani zulivan

Surgaaaaaa!

Posted on Updated on

Copy of 2014-03-02 08.58.06

Akhirnya punya waktu untuk ngubek-ubek bahan jahitan, bikin pola, potong kain. Ini salah satu surga dunia. Setelah sepekan nyaris gak bisa duduk tenang di rumah (hehehe, lebay), pagi ini saya bangun, mandi, lalu buka tas kain. Surgaaaaaa!

Saya mau bikin celana buat Simas. Celana Aladdin (hareem pants). Ini sesuai dresscode nikahan sahabat kami. Dua jam proses ngukur-ngukur, baca pola, lalu potong. Tinggal bawa ke tukang obras.

Ya sudah, yuk berburu kuliner Kotagede dulu!

adriani zulivan

 

1 Jam untuk Kakak Tantra

Posted on Updated on

Bhe8TysCEAAVAW4

Teman saya, @popobumitantra, minta tolong dibikinkan baju untuk putra pertamanya, Tantra. Baju bukan sembarang baju, melainkan pakaian yang bahannya menggunakan bahan daur ulang. Setelah diskusi gono-gini, akhirnya kami sepakat mengolah karung bekas. Mudah, soalnyašŸ™‚

Sejak obrolan awal hingga bahan ini dipotong, makan waktu dua minggu. Popo mungkin sudah sangat tidak sabar nungguin saya. Saya memang lagi kesulitan cari waktu. Namun malam ini dipaksakan, sebab lusa sudah dikenakan.

2014-02-27 19.24.492014-02-27 19.36.28

Sampai rumah, saya langsung ambil gunting, bikin pola celana dengan jiplakĀ short saya dengan sedikit dikecilkan. LaluĀ tracing kaos milik Tantra yang diberikan Popo. Ini hasilnya. Satu jam untuk proses bikin pola, potong, lalu jelujur. Tinggal besok jahit mesin dan kasih rimpel dari kemeja Korpri ayahnya PopošŸ™‚

Hoahm, saya cape sekali hari ini. Sampai besok ya…

adriani zulivan

 

Si Cantik dari Pasar Loak

Posted on Updated on

2014-02-05 20.35a

Saya dan Simas mampir ke Rumah Seni Cemeti. Teman kami, Anang Saptoto, Ā sedang pameran di sana. Saya jatuh cinta pada mesin jahit yang dipajang olehĀ Ika Vantiani untuk karyanya yang berjudul “What We Make, Make Us” ini.

Kata Anang, Ika memperoleh mesin jahit mini itu di pasar loak di Solo. Mesin itu untuk menggambarkan apa yang dilakukan oleh para seniman yang berproses di awal pembentukan Cemeti. “Saat itu, salah satu pendiri Cemeti senang kerajinan menjahit,” jelas Anang.

a

Saya baru tahu kalau ada mesin jahit merek “Sewmate”. Google bilang, itu bikinan Jepang. Peruntukannya adalah mainan anak. Hahaha, keren banget ya! Sepertinya, mesin ini dapat difungsikan sebagaimana mesin jahit biasa juga.

Lihat printilan ornamennya, Ā cantik sekali.Ā Ah, saya juga jatuh cinta pada kain bergambar perempuan menari itu! Itu adalah kristik, juga didapat Ika di loakan.

Cerita pameran saya tulis di sini.

adriani zulivan